Sebelum Kamu Larut Dalam Sebuah Penantian Panjang, Jadikan 5 Hal Ini Sebagai Persiapan

Cintailah seseorang yang kamu cintai sekedarnya saja. Karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang paling kamu benci.

Dan bencilah pada seseorang sekedarnya saja, karena boleh jadi ia akan menjadi orang yang paling kau cinta ~ Ali Bin Abi Thalib.

Saya selalu suka dengan kutipan di atas, sangat sederhana tapi memiliki makna yang sangat mendalam, walau kadang pengaplikasian di kehidupan nyata sangatlah amat sulit.

Pada saat ijinkan saya untuk sharing sedikit narasi mengenai Istiqomah dalam penantian. Mungkin saja banyak rekan-rekan juga tengah dalam sistem berhijrah serta belajar istiqomah. Termasuk juga istiqomah dalam penantian seorang yang juga akan jadi imam nantinya.

Berhijrah memanglah gampang, yang susah yaitu istiqomah. Ah terkadang saya menyesal mengapa baru diusia 23 th. saya baru betul-betul berserah diri serta mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Begitu saya mempunyai waktu dulu yang kelam, masa muda saya? Ya masa muda saya mungkin saja cuma dihiasi dengan kemaksiatan serta jauh dari perintah Allah. Namun apakah saya dapat mengulang saat? Pasti jawabanya tidak. Karenanya yang butuh dikerjakan hanya bertaubat serta selalu melakukan perbaikan diri, bermuhasabah serta selalu terasa bodoh supaya selalu belajar untuk jadi seorang yang tambah baik.

1. Senantiasa ada yang namanya sebab-akibat

Ya, sebelumnya saya betul-betul mengambil keputusan untuk makin mendekatkan diri dengan-Nya, saya hanya manusia bodoh yang suka bermaksiat. Saya kerapkali melepas yang saya gunakan, buka aurat dimuka beberapa orang, seringkali juga meninggalkan , berpacaran serta banyak sekali lagi dosa-dosa yang setiap hari saya kerjakan. Saya seperti makhluk sombong yang lupa dengan yang Maha Pencipta, saya jatuh cinta dengan nikmat duniawi. Tetapi Allah yang Maha Penyayang menarik semuanya nikmat dunia , Dia jadikanya saya terjatuh serta bangkit kembali untuk mengingat-Nya. Saya tersadar nyatanya Allah cemburu karna saya lebih mencintainya ciptaan-Nya dibanding Dia yang Maha Pencipta. Dari sistem jatuhnya saya itu lah saya mulai merengek, memohon serta memanja pada Allah, hingga saya sadar kalau Allah ambil semuanya karna yang sekian itu tidak baik buat saya. Jadi nikmat Tuhan manakah yang saya dustakan?

2. Manusia kotor yang penuh dosa

Apakah rekan-rekan lalu berfikir saya saat ini telah pindah serta jadi manusia yang suci? Oh pasti tidak, saya hanya makhluk kecil yang masih tetap penuh dosa. Cuma saja saya tengah berjuang untuk jadi manusia yang tambah baik sekali lagi. Pelan-pelan mulai saya tinggalkan beberapa hal yang sekian barusan. Pelan-pelan mulai saya tutup aurat meskipun belum juga syar’i sesuai sama syariat . Saya masih tetap menggenakan serta celana setiap saat bekerja, entahlah saya tidak berani mengulurkan jilbab panjang serta longgar untuk ke kantor. Rasa-rasanya enggan dengan beberapa orang kantor. Ah bebrapa sekali lagi saya masih tetap mementingkan duniawi

3. Godaan itu senantiasa datang

Dalam sistem pindah ini seringkali godaan itu datang seperti tren yang hits, terkadang terlintas ah gunakan baju yang mini serta fit in body terlihat lebih fresh serta muda ya. Namun cepat-cepat saya menghilangkan fikiran-pikiran kotor itu, saya telah punya niat serta saya mesti berkelanjutan. Terkadang ada pula rasa malu saat telah menggunakan baju yang tutup aurat namun langkah bicara saya serta style lawakan saya masih tetap ceplas ceplos. Ahh bukanya wanita yang baik pastinya tutup auratnya.

4. Selalu belajar untuk jadi lebih baik

Sebenarnya saat makin dekat dengan Sang Pencipta hidup ini juga akan merasa lebih enteng meskipun ujian senantiasa datang. Selalu terasa bodoh supaya selalu mencari pengetahuan serta selalu belajar. Jadi manusia yang tambah baik serta selalu tambah baik, tidakkah jodoh yaitu cerminan kita?! Kalau sekarang ini kita tengah melakukan perbaikan diri, insya Allah jodoh kita juga tengah lakukan yang sama. Bersabarlah wahai teman dekat.

5. Ikhlas Menjalani

Jadi manusia umum tentu kerapkali saya berfikir, mengapa Allah belum juga menjawab doa-doa saya. Lagi-lagi saya mengeluh. Saya baru sadar, Allah juga akan memberi apa yang paling baik untuk saya, bukanlah apa yang paling baik menurut saya. Sebenarnya jadi manusia umum kita telah sepatutnya bersukur dengan apa yang Allah beri. Tetaplah ikhlas melakukan apa pun yang telah ditakdirkan. Yang terutama yaitu selalu beralih ke arah yang tambah baik.